Jangan Putus Asa, Kita Punya Allah! – Refleksi Kisah Nabi Musa AS

Dalam kisah Nabi Musa As., Allah Swt. mengkisahkan tentang kekuatan orang yang dirinya bertuhan ketika sedang berhadapan dengan masalah. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang yang beriman untuk tidak bersandar kecuali kepada Allah Swt., apapun masalah yang dihadapi, meskipun semua makhluk tak mampu menanganinya.

Nabi Musa AS ketika membawa umatnya Bani Israil untuk menyelamatkan diri dari siksaan dan penindasan Fir’aun, Musa As. membawa mereka sampai pada tepi lautan. Ketika menyadari bahwa Musa dan ummatnya telah melarikan diri, Fir’aun bersiap diri bersama pasukannya untuk mengejar Nabi Musa As. dan ummatnya. Lautan pun menjadi saksi percakapan antara Nabi Musa As. dan umatnya kaum Bani Israil. Umatnya berkata, “’inna la mudrokun’ (Sungguh kita tidak punya tempat untuk lari), di depan kita terbentang lautan dan di belakang kita adalah Fir’aun dan pasukannya sedang mengejar dan kita sudah terkepung.”

Lalu, apa yang dikatakan Nabi Musa As. saat berhadapan dengan kondisi tersebut? Musa As. berkata: “’Kalla! Inna maiya Rabbi Sayahdin.”. Seakan Musa sedang berbicara kepada umatnya: “Wahai umatku! Sekali-kali tidak, kita belum terkepung dan belum tertangkap oleh Fir’aun dan pasukannya. Sesungguhnya Tuhanku bersama denganku, dan Dia akan memberikan jalan pentunjuk kepadaku. Tidak peduli halangan berupa lautan dan pasukan Fir’aun, sesungguhnya lautan dan Fir’aun bersama pasukannya tertunduk di bawah kekuasaan Allah SWT. Dialah yang Mahakuasa berbuat apa saja kepada lautan. Berkuasa berbuat apa saja kepada Fir’aun bersama pasukannya.”

Lihatlah bagaimana masalah yang dihadapi saat itu! Jika melihat dengan mata logika, sungguh tak ada lagi tempat untuk selamat. Di depan lautan dan di belakang adalah pasukan Fir’aun. Tapi mental orang beriman bilamana berhadapan dengan suatu masalah, mereka tidak mengedepankan logika dan akal, namun lebih mengedepankan Tuhan yang menciptakan akal.

Inilah bahasa iman bagi orang yang merasa jiwanya bertuhan. Dia senantiasa akan mengedepankan kekuatan Tuhan daripada mengedepankan kekuatan dan akal dirinya atau bahkan logika-logika material lainnya.

Berapa banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin! Semua itu bukan karena kekuatan manusia atau yang lain, tetapi semata-mata hanyalah kekuatan yang diberikan oleh Allah Swt.

Lalu Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Musa As.: “Wahai Musa! Pukulkanlah tongkatmu itu kepada lautan”. Apa yang terjadi setelah itu? Maka terbelahlah lautan itu yang masing-masing seumpama dengan gunung yang tinggi dan besar. Barulah setelah itu Nabi Musa As dan umatnya berlari melalui lautan yang terbelah tersebut.

Jika kita mengikuti hukum akal, maka perintah untuk memukulkan tongkat itu kepada lautan merupakan perintah yang tidak masuk akal. Namun, jika kita perhatikan, berapa banyak kisah yang Allah Swt. tunjukan dalam al-Qur’an membantah hukum logika dan akal tersebut? Akan tetapi banyak manusia masih mengedepankan hukum logika dan akal dalam segala hal. Bukankah sesuatu yang tidak masuk akal belum tentu mustahil dan belum tentu tidak terwujud?

Maka lihatlah sekali lagi perbedaan antara orang yang bertuhan dengan orang yang tidak bertuhan! Orang yang bertuhan senantiasa akan mengembalikan segala permasalahan kepada Tuhannya, sedangkan orang yang tidak bertuhan akan mengembalikan segalanya kepada dirinya.

Maka Jangan putus asa, kita masih punya Allah!