Pengertian Lailatul Qadar Menurut Kaum Sufi

Malam lailatul qadar adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan dan kemuliaan. Pada malam itu juga Allah Swt. menurunkan manifestasi utuh al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz di langit  ke tujuh ke langit pertama. Allah Swt. berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sungguh telah kami turunkan al-Qur’an pada malam yang diberkahi. (QS. Addukhan: 3).”

Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sungguh telah kami turunkan al-Qur’an pada malam lailatul Qadr (QS.Al-Qadr:1).”

Ibnu Katsir dalam mengomentari ayat ini menyatakan, “Adapun manifestasi utuh al-Qur’an diturunkan dalam satu tahap dari baitul Izzah ke langit pertama pada bulan Ramadhan bertepatan dengan malam lailatul Qadar seperti yang telah Allah Swt. firmankan. Kemudian ia diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. secara bertahap sesuai dengan kejadian-kejadian yang berlaku padanya.”

Pada malam ini, manusia berlomba-lomba untuk mencari kebaikan dan keberkahan yang terkandung di dalamnya. Pada malam ini pula Malaikat Jibril As. atas perintah Allah Swt. turun ke bumi dengan membawa ketenangan bagi semesta alam. Hal itu yang membuat   langit, binatang, angin dan segenap mahkluk Tuhan seakan tertunduk sunyi menikmati pancaran energi ilahiyah yang ada pada malam lailatul Qadar. Diceritakan pula, pada malam ini juga Nabi Ibrahim As. Bermimpi menyemblih putra yang dicintainya sebagai bentuk ketundukan kepada Tuhannya.

Lailatul qadar sendiri adalah sebuah karunia yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw., sesuai dengan sabdanya yang diriwayatkan dari sahabat Anas Ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Lailatul qadar telah dikaruniakan kepada umat ini yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang alasan diberikannya lailatul qadar kepada umat ini. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah satu hari merenung mengenai usia umat-umat terdahulu yang lebih panjang dari pada usia umatnya. Dari hal ini Beliau Saw. merasa sedih karena sepertinya mustahil menandingi ibadah umat-umat terdahulu. Akhirnya, dengan kasih sayang-Nya, Allah Swt. mengaruniakan lailatul qadar terhadap umat ini. Dalam artian, ketika ada seorang hamba yang beribadah pada malam ini, sama nilainya dengan 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan bahkan lebih. Walaupun ada banyak riwayat lain yang menerangkan hal ini.

Para kaum ‘arifbillah mempunyai definisi tersendiri terhadap malam yang sering diumpamakan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu malam ini.

Syekh Abu Thalib al-Makki (W. 368 H) dalam kitab Qutub al-Qulub bi Mu’amalati al-Mahbub mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan bahwa bagi seorang arif semua malam-malam adalah malam lailatul Qadar”

Syekh Abdul Karim al-Jily ( W.826 H) mengatakan, “Substansi lailatul qadar pada seorang hamba adalah kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki.”

Syekh Jamaluddin al-Khalwati (W. 1162 H) dalam kitabnya ta’wilat mengatakan, “Lailatul qadar adalah malam pencapaian, dimana ia lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. Maka barang siapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.”

Imam Qusyairi (W. 465 H) menjelaskan tentang pengertian lailatul mubarakah (malam keberkahan), “Dialah malam dimana hati seorang hamba hadir dan menyaksikan ‘pancaran’ Tuhannya. Di dalamnya ia merasakan kenikmatan dari cahaya pencapaian  dan kedekatan -kepada Tuhannya-.”

Bagi para sufi, mengejar peristiwa lailatul qadar tidak terlalu penting karena bagaimanapun lailatul qadar hanya bagian dari makhluk, sama dengan surga yang juga makhluk. Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta lailatul qadar dan surga. Apakah masih perlu lailatul qadar dan surga bila telah berada di dalam ‘pelukan’ Sang Pencipta segalanya? Wallahu A’lam